Showing posts with label war. Show all posts
Showing posts with label war. Show all posts

Thursday, November 3, 2016

Demonstrasi 4 Nov 2016

Banyak orang yang bilang, kejadian besok akan terjadi seperti Mei '98.

Tapi menurut gw beda lah.. Pasti gak sama..

Secara latar belakang jelas berbeda. Mei '98 itu mahasiswa yang beraksi, sedangkan yang besok itu sekelompok orang dari luar Jakarta yang bakal rameinnya. Mereka gak ngerti dan gak mau buka mata terhadap rekam jejak. Pertanyaan mengapa mereka "outsource" pasukan (nasi bungkus) dari luar muncul di otak gw. Kenapa mereka harus outsource? Jawabannya ya karena orang Jakarta sudah puas dengan kinerja Ahok, dan males gituan. Mereka sudah pintar lah.

Kuasa pendidikan (mahasiswa) jauh lebih kuat daripada kuasa "agalitik" (agama yang ditunggangi politik). Karena selagi ada uang, disitu ada tenaga, kalau uang habis, mereka tidur. Ada perbedaan kualitas yang tidak bisa dibandingkan antara agama dengan idealisme mahasiswa. Idealisme mahasiswa ga bisa dibayar sama uang. Idealisme mahasiswa hanya bisa dibayar dengan darah.

Hal yang lebih berpotensi itu, mahasiswa yang ngerti agama dan dapat paham agama tertentu. Mereka akan jadi ujung tombak yang bisa membelah sejarah. Paham apa yang dianut sekelompok mahasiswa, itu yang jadi darah yang mendidih dan mengalir di tubuh mereka. Problemnya paham apa yang diisi di otak mereka. Syukur lah dengan diundangnya cendikiawan agama ke Istana Presiden, kita tahu bahwa mereka ini ada di sisi NKRI yang merupakan harga mati.

Jadi, jangan kuatir lah untuk acara besok. Mereka bukan cendikiawan kok. Mereka dari luar, mereka cm besok aja. Gak ada dampak yang besar banget lah yang terjadi. Paling banter gedung, sampah, dan taman yang rusak. NKRI gak akan rusak.

HY

Wednesday, March 23, 2016

Kisah PLAT KUNING (K) vs PLAT HITAM (H) di hadapan Ibu Guru (IG)

Setelah saya ngobrol-ngobrol singkat dengan rekan kerja senior mengenai apa yang terjadi kemarin di Ibukota tercinta.. Saya terinspirasi untuk membuat cerita. Mungkin cerita ini bukan cerita yang bagus, namun cerita ini langsung saya buat karena saya sangat terinspirasi dengan analogi sederhana yang mendalam.. Silakan dinikmati...

Kisah:
K: Bu guru! Bu guru! Hitam nakal Bu! Tuh liat aja dia ke sekolah pake baju bebas! Keluarkan dia dari sekolah!
IG: Oh ya? Mana orangnya? (sambil menyeret-nyeret Hitam)
K: Ini bu orangnya!
IG: Kuning! Mana segaramnya? Kamu tahu kamu lagi dimana?
H: Di sekolah Bu..
IG: Kamu tahu peraturannya kalau baju harus segaram! Mana segarammu?!
H: Saya belum ada Bu, ribet urusnya, aku beli di Koperasi disuruhnya ribet Bu.
IG: Wah nanti saya coba atur dengan Koperasi.

(IG berjalan ke koperasi)

IG: Koperasi, apa betul Hitam pernah ingin beli baju seragam?
Koperasi: Iya bu namun requestnya tidak sesuai dengan aturan-aturan yang berlaku.
IG: Aturan apa itu?
Koperasi: Hmm... itu loh bu... Dia tidak bawa cukup uang...hmm… iya bu! Betul dia tidak cukup uang..
IG: Memang bajunya berapa harganya?
Koperasi: Hmm... Ini bu sebentar saya liat dulu (Sambil ga jelas mengalihkan)... Ini bu.. 100 juta Bu....
IG: Gila kamu! Masak seragam 100 juta! Dimana-mana paling mahal 100ribu!
Koperasi: Ok bu... ok baik baik saya akan atur...
IG: Atur ndasmu! Sini saya beli 100ribu!

(akhirnya IG membeli dan memberikannya ke Hitam)

IG: Ini seragammu Hitam, kamu harus bayar saya 100ribu!
H: Baik bu, terima kasih banyak...

K: Ibu pilih kasih!! Sini hitam! Saya bunuh kamu!

*kemudian K memukuli H sampai bonyok di depan teman-temannya, kemudian dilerai oleh security  dan IG sendiri.

IG: Kalau masih lanjut begitu, bukan Hitam yang saya keluarkan tapi kamu saya keluarkan, Kuning!
K: maaf bu maaf. Saya kalap..

Dan akhir cerita si K malu dan berkata "kalau begitu kalian teman-teman saya traktir makan deh seharian ini! Sehari aja ya! Gak berkali-kali! Tanpa syarat!"

Kemudian teman-temannya terpilah jadi dua..
Teman yang pintar: "Kok gitu ya berubah drastis.." -- Teman yang melihat lebih tajam mengenai kasus ini
Teman yang bodoh: "Wah saya akan naik! Mumpung gratis!" -- Pasukan nasi bungkus

Analogi-analogi:
Baju bebas: Illegal, tidak sesuai peraturan yang ada
K: Perusahan yang memiliki mental persaingan yang buruk
H: Perusahaan yang menggunakan setiap kesempatan illegal untuk mendapat untung
Koperasi: Anggota anggota pemerintah (kebanyakan sih DPR) yang mau ambil untung secara bodoh
IG: Orang-orang yang berhubungan dengan hukum yang HARUSNYA mengerti regulasi, peraturan, dan grasi.
Teman-teman: masyarakat Jakarta dan sekitarnya..
Traktir sehari: Gratiskan jasa sehari. Hahaha

Refleksi:
Teman macam apakah kita? Bagaimana kita menanggapinya?
Teman bodoh? Atau teman pintar? Pikirkan sendiri dan putuskan sendiri!

Saya percaya pencitraan yang dilakukan perusahaan lama lebih bagus, dan saya sangat tidak yakin supir-supir yang merupakan pekerja (kaum marginal) dapat menginisiasi gerakan sebesar itu. Siapa yang mengumpulkan massa sebanyak itu? Darimana powernya? Bagaimana persuasi mereka? Saya sangat yakin ada oknum penting (bukan orang kecil!) yang ada di balik semua ini.

Tuesday, March 10, 2015

Si vis Pacem Para Bellum - If you want a peace, prepare to war

Kalimat ini merupakan kalimat yang bisa kita lihat di dalam berbagai cara pandang. Namun ada baiknya kita melihat dari perspektif sejarah terlebih dahulu. Adagio ini diambil dan dipopulerkan oleh seorang Yunani bernama Renatus di dalam bukunya De Re Militari. Buku ini dicatat kira-kira pada abad ke-4 atau ke-5 Masehi. Motto yang dipopulerkan oleh Renatus  sangat memengaruhi banyak sekali pemikiran-pemikiran terkemuka bahkan sampai sekarang, baik secara langsung maupun tidak langsung. Organisasi-organisasi ketentaraaan di Norwegia, sekolah tentara di Afrika Selatan, dan banyak tempat-tempat lainnya menjadikan kalimat ini menjadi sebuah motto yang disematkan di dalam logo mereka. Demi menjaga keamanan sebuah negara (baca: kedamaian), diperlukan sekelompok orang yang siap sedia untuk berperang demi menjaga kedamaian.

Bahkan negara yang tidak memiliki angkatan perangnya saja menyewa tentara negara lain untuk berjaga-jaga jikalau ada hal yang tidak diinginkan. Ada pula negara yang merasa “iba” kepada negara tertentu dan dengan “gratis” memberikan pasukannya untuk membantu mereka di dalam berperang, meskipun saya percaya tidak ada yang gratis di dunia ini (setidaknya untuk saat ini). Dari sisi sejarah maupun sisi militer, peperangan itu menjadi sesuatu yang sangat real.

Ironinya, di dalam kehidupan kerohanian kita, kita menganggap peperangan itu tidak real. Padahal, Tuhan mengatakan peperangan terbesar bukanlah peperangan antara bangsa, namun yang terbesar adalah peperangan antara Tuhan dan Setan. Sebagai orang Kristen kita dijamin menang di dalam Kristus, namun kita seolah hidup mengabaikan hal ini. Kepastian kemenangan kita menjadi satu alasan kita untuk hidup “santai” dan tidak merasa perlu Tuhan. Namun sadarkah kita, kita dimandatkan Tuhan untuk berperang bagi kerajaanNya, dengan berperang melawan diri, melawan dosa-dosa, melawan kuasa jahat yang terus membuat kita dan sesama kita jauh dari dosa?