Showing posts with label God. Show all posts
Showing posts with label God. Show all posts

Monday, September 26, 2016

#1 Anies - Analisa Singkat Tentang Pilkada DKI 2017-2022

Analisa setelah baca buku Screwtape Letternya CS Lewis tentang polemik calon gubernur DKI..
Selama Anies jadi Mendikbud, Anies banyak memengaruhi orang-orang penting dan anak muda yang punya banyak simpatisan mereka, contohnya:
1. Edward Suhadi - professional photographer, udah 15-20 tahunan bergelut n punya banyak cabang, mulai dari nol.
2. Ainun Najib - penggagas hackhaton merdeka, lomba bikin software dalam negeri utk pantau pemilu, harga sembako, dll
3. Panji Pragiwaksono - komika yang sekarang mulai bergelut di bidang politik,
4. Ernest Prakasa - komika keturunan tionghoa yang gak suka kekerasan di dalam pendidikan dan paling vokal mendukung hak anak yg ga boleh dipukul (yang ini masih harus diconfirm lagi)
5. Hans Yulizar Sebastian - gak perlu dijelaskan lagi saking terkenalnya.. :v
Maka tidak heran jabatan mendikbud 1,5 tahunnya memang gak ada bentuk nyata di kurikulumnya. Dia main belakang, maka waktunya Anies banyak utk menggalang kaum muda untuk nyapres 2019/ 2024..
Analisa gw: Waktu ditengking dari mendikbud, dia putus asa jadi presiden. Eh belakangan ini lagi ada hal-hal yang begini, dia ditawarin oleh sosok yang gemuk, lucu dan seperti pasukan berkuda, untuk menjadi gubernur (sesuatu yg lebih kecil dan lebih mungkin dikerjakan). Hasrat rakus Anies dikorek lagi seperti borok, nikmat banget seperti garuk-garuk luka yang sudah kering.
Kemungkinan besar jika Anies jadi gubernur, dia akan pasif juga seperti terdahulunya, karena hasratnya bukan jadi gubernur, namun presiden.
Ujung2nya mgkn bukan Anies yang dicocok hidungnya, namun dia bisa jadi orang yang menunggangi partai.
*bis baca Screwtape Letter C.S. Lewis dan bikin gw berpikir lebih keras lagi tentang bgmn strategi iblis

Thursday, December 24, 2015

Christmas Reflection

Sungguh saya bersyukur karena Tuhan telah dengan aktif membentuk dan mengubah cara pandang saya, sepanjang saya hidup, khususnya setelah menerima Kristus sebagai satu-satunya juruselamat yang hidup. Dari berkat, anugerah, dan hukuman yang Tuhan berikan kepada hambaNya sampai sekarang, saya dipacu untuk maju semakin mencintai Tuhan dan FirmanNya.

Pada momen Natal, saya meresponi beberapa hal mengenai hidup saya yang sedang saya gumulkan di dalam kehidupan saya ini, meresponi berkat yang selama ini saya dapatkan dari Tuhan yang lahir, hidup, dan memimpin hidup saya sampai sekarang ini.

Pertama, banyak hal yang menjadikan diriku, sepenuhnya diriku. Merespon kepada hidup di hadapan Allah, merupakan sebuah keindahan tersendiri bagi diriku. Keindahan yang saya dapat bukan hanya karena cara pandang saya yang positif, melainkan pembentukan Tuhan melalui hal-hal yang negative. Saya dibentuk dengan latar belakang yang cenderung netral, jadi positif ada, negative juga ada. Tidak sedikitpandangan-pandangan negative yang membentuk saya, baik dari keluarga, gereja, maupun diri saya sendiri. Namun saya sama sekali tidak keberatan dengan hal itu, bahkan saya sangat bersyukur bahwa Tuhan memberikan rasa “khawatir”, justru untuk membuat saya senantiasa berjaga-jaga. Saya tidak percaya “negative” itu berasal pasti dari Setan. Setan justru seringkali dengan kedok “kesembuhan”, “kekayaan”, “kesehatan”, dan berbagai hal yang terkesan “positif” membuat kita justru menjauh dari Tuhan. Namun Tuhan juga memberikan banyak penghiburan kepada saya melalui hal-hal positif. Bagi saya kedua hal ini Tuhan bisa pakai.

Hal-hal negative diberikan kepada kita, agar kita senantiasa tidak mencoba untuk mencari jalan keluar di luar Tuhan, karena seluruhnya yang ada di luar Tuhan bersifat kekal. Saya tidak akan pernah melihat gaya hidup “positif” menjadi satu-satunya cara hidup yang terbaik. Toh Kristus-pun juga pernah kecewa dan kehilangan harapanNya di atas kayu salib, karena hal-hal negative yang dipikulNya begitu berat. Sampai-sampai Ia berteriak “Allahku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?”. Justru disinilah yang menjadi penghiburan orang Kristen. Bahkan di dalam pernikahanpun, jika tujuan pernikahan adalah menikah itu sendiri, kita akan jatuh ke dalam kekecewaan. Di tengah-tengah pandangan negative ini, muncul satu pengharapan, yaitu sebuah pengertian bahwa pernikahan Kristen adalah sebuah “organisasi” terkecil yang dipimpin langsung oleh Tuhan. Saya tidak bermaksud untuk mengatakan “jika saya tempelkan label Kristen, maka semuanya akan baik-baik saja.”

Namun saya memiliki iman demikian: “Kristus adalah Tuhan yang menjadi teladan bagi kita, di dalam seluruh kehidupannya, baik pelayanan maupun penderitaan yang Ia alami. Baik secara positif maupun negative.”

Kedua, Amanat agung (Mat 28:19-20) bisa dilihat di dalam cara pandang yang berbeda-beda. Alkitab diturunkan untuk menjadi pedoman hidup. Namun sebelum menjadi pedoman hidup, pasti ada “langkah-langkah interpretasi” dan pengejawantahan prinsip kebenaran. Teologi menjadi sarana bagi kita untuk menafsir Alkitab. Seluruh kewajiban/ perintah yang Tuhan berikan kepada manusia mutlak harus dikerjakan.
Pertanyaannya:
Dikerjakan bagaimana? Seperti apa bentuknya? Apa yang menjadi tanggung jawab?

Jawaban dari ketiga pertanyaan tersebut pasti akan bervariasi di antara setiap orang, bahkan setiap orang yang di dalam satu gerejapun. Maka hal-hal yang bersifat prinsip (Amanat Agung) harus dilihat secara prinsip (dikerjakan sedetail mungkin di dalam konteks masing-masing), dan hal-hal yang bersifat detail, tidak boleh dijadikan prinsip. Prinsip kebenaran dinyatakan di dalam konteks yang berbeda-beda bagi setiap orang. Tuhan menciptakan manusia berbeda-beda. Tuhan mempercayakan setiap orang talenta yang berbeda-beda baik secara jumlah maupun kemampuan (Mat 25:14-30). Saya yakin jika kita bisa membedakan apa itu “prinsip” dan “detail”, hidup kita akan terlepas dari sifat “hakim-menghakimi”.

Jack Handey mengatakan :
"Before you criticize someone, you should walk a mile in their shoes. That way when you criticize them, you are a mile away from them and you have their shoes.”

Disini saya melihat bagaimana orang Kristen harus menjalankan prinsip “mengasihi sesama seperti mengasihi diri sendiri” di dalam berempati kepada orang lain, seperti Kristus mengasihi manusia, Ia harus mengorbankan diriNya di atas kayu salib. Ini adalah empati terbesar dan teragung sepanjang sejarah. Kedatangan pertama Kristus pada mulanya bukan untuk menghakimi, namun Ia mencari domba yang hilang, dan mengembalikan domba tersebut kepada Bapa di sorga. Baru setelah itu, Kristus datang kedua kali untuk menghakimi seluruh dunia. Apakah kita boleh menghakimi orang/ gereja/ institusi? Boleh, dengan sebuah kerendahan hati dan memiliki motivasi yang murni di hadapan Tuhan.

Ketiga, pelayanan dan job, saya tidak bisa memungkiri bahwa definisi pelayanan dan pekerjaan Alkitabiah dan duniawi berbeda. Buat saya “segala sesuatu yang dikerjakan seperti untuk Tuhan” adalah pelayanan. Pekerjaan adalah bagian dari pelayanan. Paulus membuat tenda, itu merupakan pekerjaan yang dia lakukan untuk mencari nafkah, mencari nafkah juga untuk dipakai di dalam pekerjaan Tuhan (pelayanan). Saya tidak menemukan prinsip Alkitabiah mengenai pelayanan dan job seperti yang dikatakan oleh dunia. Bagi saya, seluruhnya adalah pelayanan. Mungkin tabel di bawah akan memperjelas definisi pelayanan dan pekerjaan yang saya miliki.


Pada akhirnya, tidak ada maksud saya untuk “mengajari”, disini saya memaparkan kebenaran-kebenaran yang membentuk saya dari saya muda sampai sekarang, dan yang akan menjadi pedoman yang akan kukembangkan dan lanjutkan di dalam hidupku ke depan bersama Tuhan. Besar harapanku, agar Saudara/i dapat menerima “perbedaan pendapat” ini, dan menganggap perbedaan ini sebagai enrichment bagi kita bersama, untuk kebaikan kita bersama, dan paling utama kita bersama-sama dimampukan oleh Tuhan untuk meninggikan Tuhan dan memusatkan Kristus di atas seluruh hidup kita, ketimbang menganggap diri kita ini sebagai “pusat”.


Semoga Tuhan yang sama yang menciptakan, menebus, dan memelihara kita, memberikan kita damai sejahtera di dalam menjalankan sisa hidup di depan. Tuhan memberkati.

Sunday, December 13, 2015

Serving and Hearing (1 Samuel 15)

On reading: 1 Sam 15

As a Christians, we tend to think about the dichotomy about serving God and hearing God's Word.
I want to share what I got after I read 1 Samuel 15. The context was taken when Saul thought that he is wise enough to chose his will, when God ask Saul (through Samuel) to destroy all the living beings in Amalek.

Saul thought that he can chose not to obey God's word, and tend to convince God that Saul's option were better than God's.

So do us. We often think that our plan is better than God's everlasting will. The word use to "clean up the Amalekites" in Hebrew is "Haram". The word "Haram" is so familiar in my context living in Indonesia (the world most populous Moslem country in the world). "Haram" means filth, impure, profane.

So many definition of "haram" nowadays. But I'd like to introduce you a Christian point of view of haram. "Haram" is when we try to trim God's divine judgment to us. But as a "smartass" Christians, we'd almost never confess our sin, and try to cover ourselves with "serving".

As the climax of our sinful nature, we may be sound like this: "I served God! I didn't do sin! I don't give what He want, but I give Him what he needs!"

We serve God, and almost always cut of God's word. So much compromises in our life to not obey God's divine judgment to us. We need to re-think what should we do and how should we live, according to His word, without compromise.

Soli Deo Gloria

Thursday, June 25, 2015

KIN 2015 Bagi Remaja dan Pemuda

KIN 2015 Bagi Remaja dan Pemuda

Hidup manusia terdiri atas beberapa masa: balita, kanak-kanak, remaja, pemuda, dewasa, dan lanjut usia. Masa manakah yang paling penting? Penilaian bisa berbeda-beda; masa dewasa adalah masa yang penting untuk berkarier dan bersumbangsih dalam pekerjaan, sedangkan pengalaman paling banyak berada pada usia lanjut.

Jikalau dilihat dari segi pengaruh dan penanaman fondasi untuk nilai hidup, usia remaja dan pemuda merupakan masa yang paling penting, karena di dalam masa inilah kejernihan pikiran dan ingatan manusia memungkinkannya melakukan berbagai pembelajaran dan studi yang sulit, kekuatan fisiknya memampukannya meraih prestasi dalam bidang olahraga. Pada masa ini juga manusia mulai memikirkan keperluan untuk mempunyai pasangan hidup dan berkeluarga.
Karena itulah masa remaja dan pemuda menjadi tempat perebutan antara kebenaran dan kejahatan, antara kesucian dan kenajisan, antara Tuhan dan setan. Tuhan mau manusia mengingat Dia sejak muda, mengisi hidup masa mudanya dengan sebanyak mungkin kebenaran firman Tuhan demi pembentukan karakter yang bernilai.

Di pihak lain, setan juga ingin memakai orang muda menjadi alatnya, menjadi orang yang rusak, penuh dengan pikiran jahat, dan merusak orang lain. Oleh karena itu, Konvensi Injil Nasional bagi Remaja/Pemuda dan Mahasiswa mempunyai signifikansi dan kepentingan yang tidak bisa diabaikan. Jikalau di dalam masa remaja dan pemuda manusia mempunyai arah yang benar, seumur hidupnya akan berjalan dalam perlindungan kebenaran dan pimpinan Tuhan, sebaliknya jika di dalam masa ini manusia mengambil pilihan yang salah, kehidupannya mungkin hancur untuk selama-lamanya.


Maka dengan pimpinan dan gerakan Roh Kudus, Tuhan memberikan beban kepada STEMI dan seluruh panitia untuk mengadakan Konvensi Injil Nasional bagi para remaja dan pemuda, demi membentuk karakter, mengisi pengertian kebenaran, menegakkan iman, serta mengarahkan moral dan pelayanan untuk memuliakan nama Tuhan.
Kiranya Tuhan memberkati KIN 2015 dan membersihkan hati kita, memberikan kekuatan pada kita untuk menjadi umat-Nya yang setia dan menjadi orang yang bersumbangsih bagi seluruh umat manusia.
Segala kemuliaan bagi Tuhan untuk selama-lamanya!

Pdt. Dr. Stephen Tong dan rekan-rekan
sepanggilan dalam pengabaran Injil






Bagaimana cara saya hadir?

Silakan teman-teman hadir di RMCI yang beralamat di Jalan Industri blok B 14 Kav. 1 Kemayoran, Jakarta Pusat pk 19.00 untuk mengikuti sesi Pleno yang dibawakan oleh Pdt. Dr. Stephen Tong secara gratis! Jika teman-teman ingin mengikuti sesi harian juga bisa dengan mendaftarkan diri di konter yang sudah disediakan setiap paginya!

Saya ada di luar kota, tidak mungkin untuk mengikuti sesi di Jakarta, apakah ada solusi mendengarkan firman Tuhan?

Tidak perlu khawatir! Sesi malam Pak Tong (Kamis 25 dan Jumat 26 Mei), pk 19.00 WIB) dan KKR Remaja (Sabtu 27 Mei, pk 16.00 WIB) akan di tayang secara LIVE di Reformed 21! Kami menyiapkan siaran langsungnya! Untuk selengkapnya bisa lihat pada gambar di bawah ini.





Tuesday, March 10, 2015

Si vis Pacem Para Bellum - If you want a peace, prepare to war

Kalimat ini merupakan kalimat yang bisa kita lihat di dalam berbagai cara pandang. Namun ada baiknya kita melihat dari perspektif sejarah terlebih dahulu. Adagio ini diambil dan dipopulerkan oleh seorang Yunani bernama Renatus di dalam bukunya De Re Militari. Buku ini dicatat kira-kira pada abad ke-4 atau ke-5 Masehi. Motto yang dipopulerkan oleh Renatus  sangat memengaruhi banyak sekali pemikiran-pemikiran terkemuka bahkan sampai sekarang, baik secara langsung maupun tidak langsung. Organisasi-organisasi ketentaraaan di Norwegia, sekolah tentara di Afrika Selatan, dan banyak tempat-tempat lainnya menjadikan kalimat ini menjadi sebuah motto yang disematkan di dalam logo mereka. Demi menjaga keamanan sebuah negara (baca: kedamaian), diperlukan sekelompok orang yang siap sedia untuk berperang demi menjaga kedamaian.

Bahkan negara yang tidak memiliki angkatan perangnya saja menyewa tentara negara lain untuk berjaga-jaga jikalau ada hal yang tidak diinginkan. Ada pula negara yang merasa “iba” kepada negara tertentu dan dengan “gratis” memberikan pasukannya untuk membantu mereka di dalam berperang, meskipun saya percaya tidak ada yang gratis di dunia ini (setidaknya untuk saat ini). Dari sisi sejarah maupun sisi militer, peperangan itu menjadi sesuatu yang sangat real.

Ironinya, di dalam kehidupan kerohanian kita, kita menganggap peperangan itu tidak real. Padahal, Tuhan mengatakan peperangan terbesar bukanlah peperangan antara bangsa, namun yang terbesar adalah peperangan antara Tuhan dan Setan. Sebagai orang Kristen kita dijamin menang di dalam Kristus, namun kita seolah hidup mengabaikan hal ini. Kepastian kemenangan kita menjadi satu alasan kita untuk hidup “santai” dan tidak merasa perlu Tuhan. Namun sadarkah kita, kita dimandatkan Tuhan untuk berperang bagi kerajaanNya, dengan berperang melawan diri, melawan dosa-dosa, melawan kuasa jahat yang terus membuat kita dan sesama kita jauh dari dosa?

Wednesday, March 4, 2015

Bersyukur (Being Grateful)

Ayat...
Mazmur 42:6 Mengapa engkau tertekan, hai jiwaku, dan gelisah di dalam diriku? Berharaplah kepada Allah! Sebab aku akan bersyukur lagi kepada-Nya, penolongku dan Allahku! 

Mazmur 42:12 Mengapa engkau tertekan, hai jiwaku, dan mengapa engkau gelisah di dalam diriku? Berharaplah kepada Allah! Sebab aku bersyukur lagi kepada-Nya, penolongku dan Allahku! 

Mazmur 43:5  Mengapa engkau tertekan, hai jiwaku, dan mengapa engkau gelisah di dalam diriku? Berharaplah kepada Allah! Sebab aku bersyukur lagi kepada-Nya, penolongku dan Allahku! 

Introduksi...
Tercatat di Mazmur yang letaknya berdekatan ini, tiga kali diulang pertanyaan yang sama, dan diiringi juga dengan jawaban yang sama pula. Saya melihat ini merupakan sebuah hal yang serius ketika saya merenungkan Mazmur ini. Sebuah kata yang tentunya tidak asing bagi kita, yakni "bersyukur".
Apa itu bersyukur? Mengapa kita bersyukur? Dalam situasi apa kita bersyukur?

Biasanya, setiap orang yang mengulangi kata-katanya nampak lebih serius dari orang-orang yang mengatakannya satu kali. Nuansa ini juga yang saya dapatkan ketika merenungkan ayat-ayat Mazmur di Alkitab. Nampaknya Tuhan serius di dalam hal ini. Ia menginginkan anak-anak-Nya menyimak hal ini dengan serius. 

Definisi yang salah mengenai "bersyukur"....
Saya akan memberikan satu saja contoh kalimat dan kita akan sama-sama melihatnya dari berbagai perspektif (yang tercetak tebal) untuk melihat dimana kesalahannya. Sebelumnya saya harus mengatakan bahwa kesalahan-kesalahan yang dipaparkan di bawah ini merupakan sebuah kesalahan "esensi" atau seringkali kita kenal dengan kesalahan "penekanan". Kesalahan esensi: kesalahan yang terjadi ketika kita menekankan sesuatu hal yang "bukan menjadi esensinya"

1. Kita sering kali menganggap bahwa bersyukur itu sama halnya dengan bergembira.
"Hore! Saya bersyukur karena saya memenangkan lottery!". Hal ini memang tidak serta merta membuat kita harus memandang "ucapan syukur" semacam ini TIDAK pantas. Namun yakinkah Anda bahwa syukur semacam ini merupakan ucapan syukur yang betul-betul mencerminkan "bersyukur" yang tepat?

2. Ucapan syukur itu sering menjadi sebuah "akibat" dari sebuah sebab tertentu.
"Hore! Saya bersyukur karena saya memenangkan lottery!". Kalimatnya sama, namun ada beberapa orang melihat sebatas hubungan sebab-akibat (causality). Saya cukup yakin banyak orang yang bersyukur karena mengalami sesuatu terlebih dahulu.

3. Bersyukur karena kita yang mengalaminya, bukan orang lain.
"Hore! Saya bersyukur karena saya memenangkan lottery!". Ada sebuah kalimat yang terkenal di kalangan orang Romawi Kuno, yaitu "Homo Homini Lupus" yang artinya adalah "manusia adalah serigala bagi manusia lainnya. Seluruh dunia harus menyenangkan kita, kita tidak perduli kepada orang lain, asalkan kita senang maka itulah yang terpenting. Kesalahan fatal dari sifat antroposentris ini membuat kita membuang esensi dari sebuah "Relasi". Relasi antar manusia dibuat sedemikian rupa sehingga menjadi tumpul dan mati. Kita tidak membutuhkan manusia lain, yang kita butuhkan hanyalah kesenangan kita sendiri.

4. Mensyukuri hal yang tidak memiliki prinsip yang berakar.
"Hore! Saya bersyukur karena saya memenangkan lottery!". Siapa sih yang tidak senang jika tidak mendapatkan keuntungan? Siapa yang tidak senang kalau keuntungan itu diperoleh dari hasil yang tidak kita pernah rencanakan sebelumnya? Tidak semua hal yang ada di hadapan kita itu harus kita ambil dan mutlak untuk dimiliki.

Lalu apa solusinya? Bagaimana cara bersyukur yang baik dan benar?
Tidak ada jawaban lain selain Tuhan. Tuhan mengajarkan kita melalui FirmanNya untuk senantiasa bersyukur meskipun kita tertekan, bahkan melalui ayat "Self-counseling" ini juga dibuka bukan dengan kegembiraan, namun dibuka dengan tekanan jiwa yang (saya rasa) kuat juga. Pengharapan akan Allah menjadi jawaban pertama lalu diiringi dengan syukur, syukur karena Allah, Allah-lah menjadi sebab kita untuk bersyukur! KehadiranNya membuat kita senantiasa mensyukuri hidup ini, bukan karena kemudahan-kemudahan yang kita peroleh, namun karena DiriNya Allah sendiri yang menjadi jaminan keselamatan kita. Pertanyaan dan jawaban ini merupakan sebuah pergumulan seumur hidup setiap orang (termasuk saya sendiri). Kesulitan yang dialami tidaklah menjadi sebuah alasan untuk kita tidak bersyukur. Tuhan tidak pernah menjanjikan kemudahan dan kelancaran. Namun Allah menjanjikan diriNya sendiri untuk senantiasa mendampingi kita melintasi kehidupan kita. Bersyukurlah senantiasa!

Selamat bersyukur...

Monday, January 19, 2015

Love Series: The Two Responses

“To love at all is to be vulnerable. Love anything and your heart will be wrung and possibly broken. If you want to make sure of keeping it intact you must give it to no one, not even an animal. Wrap it carefully round with hobbies and little luxuries; avoid all entanglements. Lock it up safe in the casket or coffin of your selfishness. But in that casket, safe, dark, motionless, airless, it will change. It will not be broken; it will become unbreakable, impenetrable, irredeemable. To love is to be vulnerable.”

I always stuck whenever I think about "Love". I stuck by its mysterious way of changing people. Everyone love any kind of thing in various different way. Some people uttered their love by doing justice, some by doing violent act, some by caring so much, some by kissing frequently, some by showing-off to everyone they met, some by having sex...

But... Are all that things true? Honestly, I don't know the answer. Maybe first of all, we should consider these following questions:
1. What is love?
2. Why we love?
3. How Love works? How we work for it?
4. Who has possibility to love? Whom should be love?

I have no intention to give lecture here, what I want to do just share my view of love,
The quotation showed above is the best quotation ever (so far) I have ever read. C.S Lewis explained love in its depth, and I am amazed by his writings.

We as a human, tend not to show our weak points to other. I know that's natural, and apparently, we do this thing unconsciously. We built our reputation by giving our best performance to the world, and hide our bad character by not showing our true-self to the world. We need advice from others, we are human and we surely need people to help us changing.

This is how love works. Love doesn't work in one person. Love works in each of us. Love is God himself, and in Him alone, love is on its highest climax. We love others as we love ourselves. We love God with all our heart. We are always on the way, but what kind of way are we on?

To love is to be vulnerable.. But there's still a possibility if you want to be invulnerable, Just follow what C. S Lewis said, but don't grief for it's consequences...

Saturday, January 3, 2015

New Year Resolution?

As long as I know terms "new year resolution", what I thought in my mind is about what things I want to change and how I change it. I never thought about whom will be my portion to enable me change myself. I used word "God" to make me feel secure, I never thought about God in deeper understanding. It's kinda weird when I was thinking about God deeper and deeper is the time when I less thinking about myself. And the weirder thing is when I was more caring for another, God's love is more expressed through me to others.
So in this new year, what I ought to do is not focusing on making new resolutions. (although I can't totally annihilate it, I have my own expectations too) But what I ought to do is to destroy the self-centered love to the selfless love. God gave me a mate. Surely God not give a  mate that meet my need. But I know that He give me her, for making each of us fully a God-fearing persons.
Finally in this final words, what is my resolution in this year is to prepare myself to be better God-fearing person as a teacher to teach in love, as a mate to struggle together in love, as a son to obey parents as God ask, and as brother for everyone to caring in love..
May Christ's love dwell in our heart.. God bless you..
Happy new year 2015!

Monday, December 8, 2014

Preparing Marriage

Berbicara mengenai pernikahan, kebanyakan orang akan mengatakan:

"Tujuan dari pernikahan adalah saling bertemunya keinginan. Aku dapat memenuhi keinginannya, dan ia dapat memenuhi keinginanku." 
Memang hal ini betul, namun sejujurnya, ini bukan fondasi dasar, bahkan bukan prinsip yang harus dipenuhi di dalam pernikahan.
Beberapa orang Kristen juga akan mengatakan:
"Tujuan dari pernikahan adalah dapat memancarkan keindahan relasi antara Kristus dengan Gereja-Nya"
Betul... saya setuju, tapi saya percaya bahwa setiap orang akan gagal untuk menyatakan hal ini.

Jadi apa yang sejatinya menjadi tujuan dari pernikahan? Hal yang sejatinya menjadi tujuan pernikahan adalah tidak lain daripada saling menyatakan konfirmasi akan meneladani Kristus.

Tentunya kita sangat menginginkan pernikahan yang sempurna, bukan? Kalau kita menginginkan hal tersebut, sebenarnya kita menginginkan apa yang tidak diinginkan Tuhan! 

Tuhan akan senantiasa menguji kita sehingga kita senantiasa menyatakan akan proses meneladani Kristus.

3 hal yang senantiasa dinyatakan di dalam Alkitab mengenai Kristus: 
          • Mercy / pengampunan, 
          • Grace / anugerah, 
          • Unconditional Love / kasih yang tidak bersyarat. 

Ketiga hal ini seringkali didengungkan oleh orang Kristen. Namun ketiga hal ini sangat jarang, bahkan hampir tidak pernah kita nyatakan di dalam kehidupan keseharian kita.

Kita harus sadar bahwa meskipun kasih Allah tidak bersyarat, kita manusia berdosa memiliki keterbatasan.

He is unconditional. But we are conditional!


Hal yang sangat indah akan terjadi apabila di dalam kehidupan pernikahan, Tuhan menghancurkan setiap kondisi kita... Betul-betul setiap kondisi kita dihancurkan, sehingga kita bisa hanya melihat kepada satu tujuan, yaitu menjadi semakin serupa dengan Kristus. Hal ini seperti koin dua sisi yang menyatakan keindahan Tuhan juga menyatakan pergumulan tanpa henti manusia. Namun apa gunanya kita tidak bergumul, jika kita tidak semakin dekan dengan Tuhan?

Di dalam kedaulatanNya, Tuhan sangat mungkin memberikan pasangan yang berlawanan dengan keinginan kita (seperti yang sudah dituliskan di awal).

Di dalam kedaulatanNya Tuhan pun bisa memberikan pasangan yang kita dambakan.
Di dalam kedaulatanNya pula Tuhan sangat mungkin memberikan istri yang lemah dan senantiasa menunjukkan kelemahannya kepada suami.
Di dalam kedaulatanNya yang misterius, Ia juga sangat mungkin memberikan suami yang tidak memiliki kekuatan apapun, dan, hai calon isteri... Mungkin di dalam kehidupanmu, engkau akan menuntut calon suamimu untuk menjadi kuat.

Sederhananya begini:

Di dalam kedaulatanNya, Tuhan mungkin memberikan kita pasangan yang sulit, bukan untuk menyatakan keindahan pernikahan itu sendiri, namun menyatakan keindahan pernikahan yang sejati, yaitu saling menjadi serupa dengan Kristus di dalam kasihNya yang tidak bersyarat.

Semua sangat bergantung kepada kedaulatan Tuhan. Jadi bagaimana kita harus memilih pasangan kita? Ingatlah satu hal yang utama, kita senantiasa memandang kepada kepada Kristus, sang Kepala Gereja yang sejati, yang mampu untuk mentransformasi kehidupan kita bahkan di dalam menentukan pasangan, berpacaran, mempersiapkan pernikahan dan pada akhirnya menjalankan kehidupan pernikahan.

Saya bukan orang yang sudah menikah, jadi sangat mungkin tulisan saya dianggap tidak bertanggung jawab karena tidak didasarkan oleh pengalaman-pengalaman. Saya cukup terberkati ketika saya yang akan mempersiapkan diri untuk menikah beberapa tahun lagi, mendengar sebuah khotbah kira-kira berdurasi 40 menit dari pengkhotbah bernama Paul Washer mengenai pernikahan, dan beginilah kira-kira refleksi saya mengenai apa yang saya dengar.

Kiranya teman-teman pembaca mendoakan saya di dalam mempersiapkan kehidupan melepas masa lajang. Saya gentar dan cukup khawatir apakah saya siap menghadapinya. Namun saya diingatkan oleh Tuhan sekali lagi bahwa apa yang menjadi ekspektasi pribadi saya sangat mungkin dengan sengaja, Tuhan gugurkan. Hanya untuk mencapai satu tujuan ultimat, yaitu aku dan pasanganku bersama-sama menjadi semakin serupa dengan Kristus dan saling mencintai di dalam kasih yang semakin tidak bersyarat satu sama lain.

Kiranya Tuhan memberkati kita semua. Amin.

Wednesday, September 3, 2014

Perspective of Love

Lately I haven't been in a good health. I taught uncompassionately, walk as few as I can, refuse to had a call with others, off my mobile data traffic, go home earlier, and living my life palely. Suddenly a huge question was on top of my question list... "Why I do all these things until today?"..
I took my bible and was trying to find the answer. I open 1 Corinthians 13 (I am not randomly search for the answer, I knew that verse talk about love). Surprisingly, I felt so blessed. I got another perspective of love, in an old manuscript called "Bible".
I found that The Love is a nuclear of our everything. Love acts as a nucleus in our life.

1Co 13:1  If I speak with the tongues of men and of angels, but have not love, I am become sounding brass, or a clanging cymbal. 

1Co 13:2  And if I have the gift of prophecy, and know all mysteries and all knowledge; and if I have all faith, so as to remove mountains, but have not love, I am nothing. 

1Co 13:3  And if I bestow all my goods to feed the poor, and if I give my body to be burned, but have not love, it profiteth me nothing. 

1Co 13:4  Love suffereth long, and is kind; love envieth not; love vaunteth not itself, is not puffed up, 

1Co 13:5  doth not behave itself unseemly, seeketh not its own, is not provoked, taketh not account of evil; 

1Co 13:6  rejoiceth not in unrighteousness, but rejoiceth with the truth; 

1Co 13:7  beareth all things, believeth all things, hopeth all things, endureth all things. 


"Love is personal. Love is relational.
I get it wrong, blame others, forget to listen and fail to see.
But Christ moves me not to push but to lead; not to force, but to invite; not to tell but to listen.
Bear, believe, hope, endure.
May it be so in us. May it be so in me." - Emily. P. Freeman 

Monday, February 17, 2014

Second Disaster

It’s been a long time for me not to feel a disaster in my life. From these two disasters, I know that the fault is on me. I think the first disaster in my life can make me wiser than before. But in this second disaster happened to proof that: something is unchanged inside me. 

I am not growing! It’s just a matter of what inside me. 

“A man is a man when he is able to grow” and I just realize, something that struck me is not merely an incident, but it is a conscious program made by the “unchanged me”. It’s a bad thing, because I realize my condition for too late. I’m 25 already, God! Please spare me one more time. 

I know that I’m a stone-headed man. But one thing that I won’t change is “believe in true love”.

God, please enable me to close this stupidity, and open the new page of my life, now.

Thursday, July 11, 2013

Ask: Why?

We often ask "why" in our life. The bitterness of our life sometimes force us to think "how unfair..."
We ought to feel that we were the saddest person in the world.
For me? Today is the day that God molds me. I've been hearing the word of God for a full-3-day. I couldn't expect that God tests me the day after I attend that convention.
Can you imagine how mad you are when you are waiting for around 6 hours for nothing? That is what I feel today in Immigration centre located in Jakarta...
I asked God "Oh God.... Why?"
Suddenly, I remember what I had been heard from the convention.. "God molds you in a very natural-way.. He has a greater plan than ours...... He know the best for His people....... Keep faith in Him... Never lost your faith, ask God for keep you safe in His hand..."
Surprisingly, I feel so calm... Just like never before... The power of the word is so strong that he could change the mood of hatred to a mood of flesh-heart...
Thus confirms me more about God as my center of my universe of thought..
Praise God!