Showing posts with label reflection. Show all posts
Showing posts with label reflection. Show all posts

Monday, September 26, 2016

#1 Anies - Analisa Singkat Tentang Pilkada DKI 2017-2022

Analisa setelah baca buku Screwtape Letternya CS Lewis tentang polemik calon gubernur DKI..
Selama Anies jadi Mendikbud, Anies banyak memengaruhi orang-orang penting dan anak muda yang punya banyak simpatisan mereka, contohnya:
1. Edward Suhadi - professional photographer, udah 15-20 tahunan bergelut n punya banyak cabang, mulai dari nol.
2. Ainun Najib - penggagas hackhaton merdeka, lomba bikin software dalam negeri utk pantau pemilu, harga sembako, dll
3. Panji Pragiwaksono - komika yang sekarang mulai bergelut di bidang politik,
4. Ernest Prakasa - komika keturunan tionghoa yang gak suka kekerasan di dalam pendidikan dan paling vokal mendukung hak anak yg ga boleh dipukul (yang ini masih harus diconfirm lagi)
5. Hans Yulizar Sebastian - gak perlu dijelaskan lagi saking terkenalnya.. :v
Maka tidak heran jabatan mendikbud 1,5 tahunnya memang gak ada bentuk nyata di kurikulumnya. Dia main belakang, maka waktunya Anies banyak utk menggalang kaum muda untuk nyapres 2019/ 2024..
Analisa gw: Waktu ditengking dari mendikbud, dia putus asa jadi presiden. Eh belakangan ini lagi ada hal-hal yang begini, dia ditawarin oleh sosok yang gemuk, lucu dan seperti pasukan berkuda, untuk menjadi gubernur (sesuatu yg lebih kecil dan lebih mungkin dikerjakan). Hasrat rakus Anies dikorek lagi seperti borok, nikmat banget seperti garuk-garuk luka yang sudah kering.
Kemungkinan besar jika Anies jadi gubernur, dia akan pasif juga seperti terdahulunya, karena hasratnya bukan jadi gubernur, namun presiden.
Ujung2nya mgkn bukan Anies yang dicocok hidungnya, namun dia bisa jadi orang yang menunggangi partai.
*bis baca Screwtape Letter C.S. Lewis dan bikin gw berpikir lebih keras lagi tentang bgmn strategi iblis

Sunday, December 13, 2015

Serving and Hearing (1 Samuel 15)

On reading: 1 Sam 15

As a Christians, we tend to think about the dichotomy about serving God and hearing God's Word.
I want to share what I got after I read 1 Samuel 15. The context was taken when Saul thought that he is wise enough to chose his will, when God ask Saul (through Samuel) to destroy all the living beings in Amalek.

Saul thought that he can chose not to obey God's word, and tend to convince God that Saul's option were better than God's.

So do us. We often think that our plan is better than God's everlasting will. The word use to "clean up the Amalekites" in Hebrew is "Haram". The word "Haram" is so familiar in my context living in Indonesia (the world most populous Moslem country in the world). "Haram" means filth, impure, profane.

So many definition of "haram" nowadays. But I'd like to introduce you a Christian point of view of haram. "Haram" is when we try to trim God's divine judgment to us. But as a "smartass" Christians, we'd almost never confess our sin, and try to cover ourselves with "serving".

As the climax of our sinful nature, we may be sound like this: "I served God! I didn't do sin! I don't give what He want, but I give Him what he needs!"

We serve God, and almost always cut of God's word. So much compromises in our life to not obey God's divine judgment to us. We need to re-think what should we do and how should we live, according to His word, without compromise.

Soli Deo Gloria

Tuesday, March 10, 2015

Si vis Pacem Para Bellum - If you want a peace, prepare to war

Kalimat ini merupakan kalimat yang bisa kita lihat di dalam berbagai cara pandang. Namun ada baiknya kita melihat dari perspektif sejarah terlebih dahulu. Adagio ini diambil dan dipopulerkan oleh seorang Yunani bernama Renatus di dalam bukunya De Re Militari. Buku ini dicatat kira-kira pada abad ke-4 atau ke-5 Masehi. Motto yang dipopulerkan oleh Renatus  sangat memengaruhi banyak sekali pemikiran-pemikiran terkemuka bahkan sampai sekarang, baik secara langsung maupun tidak langsung. Organisasi-organisasi ketentaraaan di Norwegia, sekolah tentara di Afrika Selatan, dan banyak tempat-tempat lainnya menjadikan kalimat ini menjadi sebuah motto yang disematkan di dalam logo mereka. Demi menjaga keamanan sebuah negara (baca: kedamaian), diperlukan sekelompok orang yang siap sedia untuk berperang demi menjaga kedamaian.

Bahkan negara yang tidak memiliki angkatan perangnya saja menyewa tentara negara lain untuk berjaga-jaga jikalau ada hal yang tidak diinginkan. Ada pula negara yang merasa “iba” kepada negara tertentu dan dengan “gratis” memberikan pasukannya untuk membantu mereka di dalam berperang, meskipun saya percaya tidak ada yang gratis di dunia ini (setidaknya untuk saat ini). Dari sisi sejarah maupun sisi militer, peperangan itu menjadi sesuatu yang sangat real.

Ironinya, di dalam kehidupan kerohanian kita, kita menganggap peperangan itu tidak real. Padahal, Tuhan mengatakan peperangan terbesar bukanlah peperangan antara bangsa, namun yang terbesar adalah peperangan antara Tuhan dan Setan. Sebagai orang Kristen kita dijamin menang di dalam Kristus, namun kita seolah hidup mengabaikan hal ini. Kepastian kemenangan kita menjadi satu alasan kita untuk hidup “santai” dan tidak merasa perlu Tuhan. Namun sadarkah kita, kita dimandatkan Tuhan untuk berperang bagi kerajaanNya, dengan berperang melawan diri, melawan dosa-dosa, melawan kuasa jahat yang terus membuat kita dan sesama kita jauh dari dosa?

Wednesday, March 4, 2015

Bersyukur (Being Grateful)

Ayat...
Mazmur 42:6 Mengapa engkau tertekan, hai jiwaku, dan gelisah di dalam diriku? Berharaplah kepada Allah! Sebab aku akan bersyukur lagi kepada-Nya, penolongku dan Allahku! 

Mazmur 42:12 Mengapa engkau tertekan, hai jiwaku, dan mengapa engkau gelisah di dalam diriku? Berharaplah kepada Allah! Sebab aku bersyukur lagi kepada-Nya, penolongku dan Allahku! 

Mazmur 43:5  Mengapa engkau tertekan, hai jiwaku, dan mengapa engkau gelisah di dalam diriku? Berharaplah kepada Allah! Sebab aku bersyukur lagi kepada-Nya, penolongku dan Allahku! 

Introduksi...
Tercatat di Mazmur yang letaknya berdekatan ini, tiga kali diulang pertanyaan yang sama, dan diiringi juga dengan jawaban yang sama pula. Saya melihat ini merupakan sebuah hal yang serius ketika saya merenungkan Mazmur ini. Sebuah kata yang tentunya tidak asing bagi kita, yakni "bersyukur".
Apa itu bersyukur? Mengapa kita bersyukur? Dalam situasi apa kita bersyukur?

Biasanya, setiap orang yang mengulangi kata-katanya nampak lebih serius dari orang-orang yang mengatakannya satu kali. Nuansa ini juga yang saya dapatkan ketika merenungkan ayat-ayat Mazmur di Alkitab. Nampaknya Tuhan serius di dalam hal ini. Ia menginginkan anak-anak-Nya menyimak hal ini dengan serius. 

Definisi yang salah mengenai "bersyukur"....
Saya akan memberikan satu saja contoh kalimat dan kita akan sama-sama melihatnya dari berbagai perspektif (yang tercetak tebal) untuk melihat dimana kesalahannya. Sebelumnya saya harus mengatakan bahwa kesalahan-kesalahan yang dipaparkan di bawah ini merupakan sebuah kesalahan "esensi" atau seringkali kita kenal dengan kesalahan "penekanan". Kesalahan esensi: kesalahan yang terjadi ketika kita menekankan sesuatu hal yang "bukan menjadi esensinya"

1. Kita sering kali menganggap bahwa bersyukur itu sama halnya dengan bergembira.
"Hore! Saya bersyukur karena saya memenangkan lottery!". Hal ini memang tidak serta merta membuat kita harus memandang "ucapan syukur" semacam ini TIDAK pantas. Namun yakinkah Anda bahwa syukur semacam ini merupakan ucapan syukur yang betul-betul mencerminkan "bersyukur" yang tepat?

2. Ucapan syukur itu sering menjadi sebuah "akibat" dari sebuah sebab tertentu.
"Hore! Saya bersyukur karena saya memenangkan lottery!". Kalimatnya sama, namun ada beberapa orang melihat sebatas hubungan sebab-akibat (causality). Saya cukup yakin banyak orang yang bersyukur karena mengalami sesuatu terlebih dahulu.

3. Bersyukur karena kita yang mengalaminya, bukan orang lain.
"Hore! Saya bersyukur karena saya memenangkan lottery!". Ada sebuah kalimat yang terkenal di kalangan orang Romawi Kuno, yaitu "Homo Homini Lupus" yang artinya adalah "manusia adalah serigala bagi manusia lainnya. Seluruh dunia harus menyenangkan kita, kita tidak perduli kepada orang lain, asalkan kita senang maka itulah yang terpenting. Kesalahan fatal dari sifat antroposentris ini membuat kita membuang esensi dari sebuah "Relasi". Relasi antar manusia dibuat sedemikian rupa sehingga menjadi tumpul dan mati. Kita tidak membutuhkan manusia lain, yang kita butuhkan hanyalah kesenangan kita sendiri.

4. Mensyukuri hal yang tidak memiliki prinsip yang berakar.
"Hore! Saya bersyukur karena saya memenangkan lottery!". Siapa sih yang tidak senang jika tidak mendapatkan keuntungan? Siapa yang tidak senang kalau keuntungan itu diperoleh dari hasil yang tidak kita pernah rencanakan sebelumnya? Tidak semua hal yang ada di hadapan kita itu harus kita ambil dan mutlak untuk dimiliki.

Lalu apa solusinya? Bagaimana cara bersyukur yang baik dan benar?
Tidak ada jawaban lain selain Tuhan. Tuhan mengajarkan kita melalui FirmanNya untuk senantiasa bersyukur meskipun kita tertekan, bahkan melalui ayat "Self-counseling" ini juga dibuka bukan dengan kegembiraan, namun dibuka dengan tekanan jiwa yang (saya rasa) kuat juga. Pengharapan akan Allah menjadi jawaban pertama lalu diiringi dengan syukur, syukur karena Allah, Allah-lah menjadi sebab kita untuk bersyukur! KehadiranNya membuat kita senantiasa mensyukuri hidup ini, bukan karena kemudahan-kemudahan yang kita peroleh, namun karena DiriNya Allah sendiri yang menjadi jaminan keselamatan kita. Pertanyaan dan jawaban ini merupakan sebuah pergumulan seumur hidup setiap orang (termasuk saya sendiri). Kesulitan yang dialami tidaklah menjadi sebuah alasan untuk kita tidak bersyukur. Tuhan tidak pernah menjanjikan kemudahan dan kelancaran. Namun Allah menjanjikan diriNya sendiri untuk senantiasa mendampingi kita melintasi kehidupan kita. Bersyukurlah senantiasa!

Selamat bersyukur...

Monday, January 19, 2015

Love Series: The Two Responses

“To love at all is to be vulnerable. Love anything and your heart will be wrung and possibly broken. If you want to make sure of keeping it intact you must give it to no one, not even an animal. Wrap it carefully round with hobbies and little luxuries; avoid all entanglements. Lock it up safe in the casket or coffin of your selfishness. But in that casket, safe, dark, motionless, airless, it will change. It will not be broken; it will become unbreakable, impenetrable, irredeemable. To love is to be vulnerable.”

I always stuck whenever I think about "Love". I stuck by its mysterious way of changing people. Everyone love any kind of thing in various different way. Some people uttered their love by doing justice, some by doing violent act, some by caring so much, some by kissing frequently, some by showing-off to everyone they met, some by having sex...

But... Are all that things true? Honestly, I don't know the answer. Maybe first of all, we should consider these following questions:
1. What is love?
2. Why we love?
3. How Love works? How we work for it?
4. Who has possibility to love? Whom should be love?

I have no intention to give lecture here, what I want to do just share my view of love,
The quotation showed above is the best quotation ever (so far) I have ever read. C.S Lewis explained love in its depth, and I am amazed by his writings.

We as a human, tend not to show our weak points to other. I know that's natural, and apparently, we do this thing unconsciously. We built our reputation by giving our best performance to the world, and hide our bad character by not showing our true-self to the world. We need advice from others, we are human and we surely need people to help us changing.

This is how love works. Love doesn't work in one person. Love works in each of us. Love is God himself, and in Him alone, love is on its highest climax. We love others as we love ourselves. We love God with all our heart. We are always on the way, but what kind of way are we on?

To love is to be vulnerable.. But there's still a possibility if you want to be invulnerable, Just follow what C. S Lewis said, but don't grief for it's consequences...

Saturday, January 3, 2015

New Year Resolution?

As long as I know terms "new year resolution", what I thought in my mind is about what things I want to change and how I change it. I never thought about whom will be my portion to enable me change myself. I used word "God" to make me feel secure, I never thought about God in deeper understanding. It's kinda weird when I was thinking about God deeper and deeper is the time when I less thinking about myself. And the weirder thing is when I was more caring for another, God's love is more expressed through me to others.
So in this new year, what I ought to do is not focusing on making new resolutions. (although I can't totally annihilate it, I have my own expectations too) But what I ought to do is to destroy the self-centered love to the selfless love. God gave me a mate. Surely God not give a  mate that meet my need. But I know that He give me her, for making each of us fully a God-fearing persons.
Finally in this final words, what is my resolution in this year is to prepare myself to be better God-fearing person as a teacher to teach in love, as a mate to struggle together in love, as a son to obey parents as God ask, and as brother for everyone to caring in love..
May Christ's love dwell in our heart.. God bless you..
Happy new year 2015!